Make your own free website on Tripod.com

Kemass Saudi Arabia

Kuliner Khas Palembang

Siapa yang tak kenal olah rasa orang Palembang? Tidak hanya Pempek, Palembang banyak menawarkan sajian yang dijamin akan memanjakan lidah anda seperti kue srikayo, ketan duren, mie celor, lakso, burgo, celimpungan, tekwan, model, kempalang/kerupuk bakar, es kacang merah dan lain-lain. Nikmati aneka olahan boga khas dari Palembang.

kapalselam

Pempek

Pempek merupakan makanan khas tradisional Palembang paling terkenal yang terbuat dari bahan dasar daging ikan giling (biasanya ikan Belido, tenggiri atau ikan gabus) dan tepung tapioka. Jenisnya antara lain ada pempek lenjer, telor besar (kapal selam), pastel( isian sayur pepaya muda yg dibumbui), kerupuk (kriting), tahu, lenggang, panggang, serta adaan.

pempek kapal selam & pempek Lenjer
Pempek kapal selam & pempek Lenjer

pempek adaan
Pempek adaan

Pindang Patin

Pindang Patin Palembang

Pindang ikan patin memunculkan sensasi paduan rasa pedas, asam segar, dan wangi kemangi. Sebagai gambaran rasa, daging ikan patin yang lembut dimasak dengan serai, daun salam, jahe, lengkuas, daun bawang, dan cabe, serta rasa asam segar dari buah nanas. benar-benar mengugah selera

Mie Celor
Mie Celor

Mie Celor Palembang

Dinamakan Mie Celor karena sebelum di hidangkan mie dan kecamba (tauge)nya dicelor terlebih dulu (diseduh dengan air panas) lalu disiram dengan kuah kaldu udang yang kental dan diberi irisan telur, irisan daun seledri, bawang goreng dan diberi kecap asin sedikit...wow sedapnya...silakan dicoba kalau bertandang ke Palembang .

Tempoyak

Tempoyak

Tempoyak adalah daging durian yang dipermentasikan (diasamkan). Di Palembang tempoyak banyak sekali dibuat masakan yang mengunakan bahan ikan (Ikan Patin, Ikan Laes, dll) biasanya dibuat pepes atau di brengkes. Rasa asam pedas dan gurih dari tempoyak yang menyatu dengan daging ikan memberikan cita rasa yang berbeda di lidah. Kadang juga Tempoyak dibuat menjadi sambal.





Pariwisata Nasional
Visit Musi dan Bayang-bayang UKM
Kamis, 17 Januari 2008, Sumber: Kompas

Visit Musi 2008 sudah diluncurkan secara resmi 5 Januari lalu. Namun, para pelaku usaha kecil menengah masih mempertanyakan relevansi program tersebut dalam mendukung usaha mereka, di tengah kelesuan bisnis.

Boni Dwi Pramudyanto dan Buyung Wijaya Kusuma

Fatimah Manshur, perajin songket asal Kota Palembang, misalnya, berharap nasibnya berubah setelah muncul program Visit Musi 2008.

Setelah puluhan tahun menekuni profesi perajin songket, perekonomian Fatimah Manshur relatif stagnan karena usaha kain tradisional itu mengalami kelesuan pemasaran.

"Pemerintah Sumatera Selatan sudah meluncurkan program Visit Musi 2008. Apa nasib kami perajin songket bisa membaik tahun ini?" kata Fatimah.

Perajin kecil beromzet rata-rata Rp 3 juta, dan memproduksi kurang dari lima potong songket sebulan, itu saban hari terus menenun songket, ada atau tak ada Visit Musi 2008. Di rumah panggung miliknya di Jalan Ki Gede Ing Suro, 30 Ilir Palembang itu, sekian lama Fatimah tenggelam dalam kesibukan menyongket.

Sejak disiapkan dua tahun lalu, Pemprov Sumatera Selatan mendesain Visit Musi 2008 sebagai agenda akbar pariwisata. Menurut Gubernur Sumsel Syahrial Oesman saat membuka Visit Musi 2008 di Palembang, sektor pariwisata diharapkan menjadi lokomotif kemajuan pembangunan di Sumsel.

Visit Musi 2008 menargetkan kunjungan 1,6 juta wisatawan dalam tahun ini. Sebelumnya, Sumsel hanya mampu mendatangkan 670.000 wisatawan.

Sekretaris Musi Tourism Board Amidi mengatakan, ide mengadakan program pariwisata akbar ini berawal dari kesuksesan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI tahun 2004. Waktu itu PON menjadi salah satu titik nadir kebangkitan di Sumsel.

Selama pelaksanaan PON XVI, banyak peserta yang mengaku terkesan dengan potensi pariwisata di Sumsel yang berupa wisata air di Sungai Musi, wisata pegunungan, wisata hutan, wisata danau, dan lainnya. Berkat PON XVI itu pula Bandar Udara Sultan Mahmud Baddarudin II, Kota Palembang, kini tampil jauh lebih bagus dari bandara di Kota Bandung, Yogyakarta, Solo, atau Makassar. "Karena itulah lewat PON XVI muncul gerakan kuat untuk membangkitkan sektor pariwisata yang selama ini tertidur. Programnya dinamakan Visit Musi 2008," ucap Amidi.

Para perajin songket adalah sebagian warga Sumsel yang menaruh harapan besar melalui peningkatan kunjungan wisatawan, maka peminat kain songket bisa bertambah banyak.

Zainal Arifin, perajin songket lain, mengatakan Visit Musi 2008 sebenarnya belum terlalu berdampak ke iklim usaha kecil menengah di Palembang.

Dengan jumlah perajin songket sekitar 4.000 orang di Palembang, Zainal yang sejak 1987 telah membina 2.000 perajin songket di Galeri Zainal Songket miliknya di Palembang, sebenarnya tahu persis napas hidup mereka. Profesi pesongket tak bisa dijadikan pegangan usaha dengan keuntungan besar. Pendeknya, songket, bukan bisnis besar.

"Itu karena peminatnya masih sangat terbatas. Selain produksinya tidak massal, memproduksinya pun butuh satu hingga tiga bulan. Pemasarannya sama saja, masih sangat terbatas," katanya.

Jadi, menurut Zainal, yang dipikirkan perajin songket sebatas upaya bertahan hidup pada saat biaya produksi kian tinggi dan pasar tidak berkembang. Meskipun—sekilas—usaha songket terkesan menjamur, terutama di sentra kerajinan songket di Palembang, omzet penjualannya relatif biasa.

Perajin berharap momentum Visit Musi 2008 akan memberikan kesadaran pada masyarakat akan kekayaan budaya Nusantara, salah satunya kain songket.

Pemprov Sumsel memang terkesan ambisius menggelar program akbar pariwisata ini karena optimistis bisa menjadikan sektor pariwisata sebagai gerbong pembangunan di Sumsel. Selain pariwisata, provinsi yang berbatasan langsung dengan Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Bangka-Belitung itu juga memiliki kekayaan sumber daya alam dan energi yang berlimpah.

Di sektor energi, Sumsel memiliki cadangan batu bara 22,24 miliar ton, gas bumi 24,18 TSFC atau triliun standar kaki kubik, minyak bumi 757,5 metric stock tank barrel, dan gas metana 122 TSFC. Belum lagi sektor perkebunan yang didominasi komoditas kelapa sawit dan karet. "Makin banyak orang berkunjung, potensi Sumsel makin dikenal. Jika demikian, diharapkan investasi meningkat. Inilah tujuan Visit Musi 2008," kata Syahrial Oesman.

Salah satu bukti keseriusan Pemprov Sumsel adalah alokasi anggaran multi-years dari APBD Rp 5 miliar untuk promosi dan periklanan Visit Musi 2008.

Syamsurijal, pengamat pariwisata dari Universitas Sriwijaya, Palembang, menilai pengalokasian anggaran promosi dan periklanan hingga Rp 5 miliar itu berlebihan. Pemerintah seharusnya juga memprioritaskan pembenahan internal, seperti memperbaiki kualitas air Sungai Musi yang justru keruh.

Visit Musi 2008 memang bukan hanya akan memengaruhi kehidupan perajin songket. Kalau sukses, program tersebut akan ikut menggairahkan bisnis kuliner, perhotelan, dan usaha kecil lainnya di Sumsel.